rubik’s cube in pixel art. sadisssss!!!

pada tau kan permainan rubik’s cube? mainannya kaya yang di bawah ini :

rubiks_cube

ini adalah permainan yang paliiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnggggggggggggggg saya benci di seluruh jagat raya. tuh, ga nyambung deh sama otak saya. saya suka liat orang2 yang jago mengotak-atik mainan ini, bahkan hanya dengan satu tangan dan berhasil membuat satu sisi warnanya sama semua hanya dalam beberapa detik. masya allah. dewa banget deh tuh orang…

nah, ada yang lebih gila lagi nih daripada sekedar bermain rubik’s cube. yaitu, menyusun pola dari banyaaaaaaaaakkkk rubik’s cube. liat gambar di bawah ini :

pixelplosion

ih, pinter banget sih yang bisa bikin kaya gini. gmn caranyaaaaaaa????

tapi ada yang lebih sadis bin kejam daripada susunan pola di atas. ini dia…

pixel-art-21

ya TUHAN, koq bisa sih bikin wajah manusia dari susunan banyak rubik’s cube. saya jd pengen nangis ngeliatnya. sadisssssssssssssssss… :( (

chiquitita

dedicated to my best friend :)

Songwriters: Andersson, Benny Goran Br;Ulvaeus, Bjoern K.

Chiquitita, tell me what’s wrong
You’re enchained by your own sorrow
In your eyes there is no hope for tomorrow
How I hate to see you like this
There is no way you can deny it
I can see that you’re oh so sad, so quiet

Chiquitita, tell me the truth
I’m a shoulder you can cry on
Your best friend, I’m the one you must rely on
You were always sure of yourself
Now I see you’ve broken a feather
I hope we can patch it up together

Chiquitita, you and I know
How the heartaches come and they go and the scars they’re leaving
You’ll be dancing once again and the pain will end
You will have no time for grieving
Chiquitita, you and I cry
But the sun is still in the sky and shining above you
Let me hear you sing once more like you did before
Sing a new song, Chiquitita
Try once more like you did before
Sing a new song, Chiquitita

So the walls came tumbling down
And your love’s a blown out candle
All is gone and it seems too hard to handle
Chiquitita, tell me the truth
There is no way you can deny it
I see that you’re oh so sad, so quiet

Chiquitita, you and I know
How the heartaches come and they go and the scars they’re leaving
You’ll be dancing once again and the pain will end
You will have no time for grieving
Chiquitita, you and I cry
But the sun is still in the sky and shining above you
Let me hear you sing once more like you did before
Sing a new song, Chiquitita
Try once more like you did before
Sing a new song, Chiquitita
Try once more like you did before
Sing a new song, Chiquitita

yang sering terlupakan

tadi pagi saya naek angkot. di tengah perjalanan, ada seorang ibu dengan badan yang tinggi besar, masuk menaiki angkot yang saya tumpangi. kulitnya hitam. rambutnya bergelombang, pendek, berantakan. bajunya juga agak lusuh. dia membawa dua orang anak dan dua buah tas besar. anak pertamanya, laki-laki, kira-kira berusia 7-8 tahun, membawa satu tas besar. saya tidak begitu jelas melihat anak itu, karena dia duduk di sebelah orang yang duduk di sebelah saya (hehe). anak yang kedua, perempuan, usia 1 tahun-an, digendong oleh ibunya. si ibu sendiri selain menggendong anak perempuannya, dia juga membawa tas besar.

mengapa saya jadi memperhatikan ibu itu? ada satu hal yang menarik perhatian saya. dia menggunakan ulos sebagai kain penggendong anaknya (karembong). saya pikir dia orang batak yang sangat batak. tetapi saya tidak pernah melihat orang batak menggunakan ulos sebagai karembong.

sesaat sesudah ibu itu duduk, anak perempuannya menangis. lalu dia memberikan botol susu yang menggunakan dot. tetapi botol itu kosong.hanya ada sisa-sisa susu. tetapi anaknya langsung diam saat menikmati botol susu kosong itu.

tidak lama kemudia, saya melihat ibu itu berbicara dengan pemuda di sebelahnya. saya tidak tahu dia berbicara apa. tetapi sepertinya dia meminta sesuatu kepada pemuda itu dan pemuda itu menolak permintaannya. lalu pemuda itu turun.

angkot berjalan lagi. penumpang naik dan turun silih berganti. saya belum turun. ibu itu juga belum. ibu itu mengeluarkan sesuatu dari tas besarnya. kantong kresek warna putih. dia terlihat mengambil uang dari kantong kresek itu. tetapi hanya seribu rupiah. di sebelah ibu (ibu 1) itu, duduk seorang ibu lain (ibu 2) yang membawa anak perempuannya yang berusia kira-kira 5-6 tahun.

ibu 1 : teh, boleh minta 2 rb ga untuk nambahin ongkos saya?

ibu 2 : kenapa?

ibu 1 : boleh minta 2 rb ga untuk nambahin ongkos saya?

ibu 2 : sepertinya saya punya receh (sambil merogoh saku celananya). ini (sambil menyerahkan uang 2 rb).

ibu 1 : terima kasih, teh (sambil menempelkan uang 2 rb itu di dahinya).

ternyata tujuan ibu itu sudah dekat. dia turun, lalu menyerahkan uang 3 rb kepada supir angkot sambil berkata, “hampura, a. hampura.” si supir angkot hanya mengangguk-angguk saja.

ketika mereka turun, saya melihat anak laki-laki ibu itu tidak bisa berjalan dengan baik. susah untuk berjalan normal. entah ada masalah apa dengan kakinya.

 

di dalam hati, saya hanya bisa bertanya, “TUHAN, mengapa harus ada orang yang menderita dan kekurangan seperti mereka itu, sementara ada orang yang berkelimpahan dalam segala hal dan tidak pernah mengalami kesusahan tetapi malah menghancurkan hidupnya dengan pola hidup yang buruk?”

 

satu atau dua bulan yang lalu, saat bulan puasa, di suatu malam, saya diantar teman saya pulang ke rumah. di tengah perjalanan, teman saya mampir ke atm. saat sampai di depan atm, saya melihat seorang bapak yang berjualan kaligrafi dari bahan kulit binatang. padahal sudah jam 9 malam, tetapi dia tetap berjualan. mukanya kusut, cape, sedih. dia menawarkan barang jualannya kepada orang-orang yang ada di depan atm. termasuk saya. bapak itu kurus. badannya kecil. suaranya juga kecil. dia terlihat lelah sekali. dia menawarkan barang jualannya dalam bahasa sunda. saya melihat kepada bapak itu. saya lihat matanya, sembari menolak membeli kaligrafinya.

saya kasihan sekali. saya berpikir bagaimana jika ayah saya yang berjualan seperti itu demi menghidupi mama, saya, dan adik saya?

lalu bapak itu pergi.

hati saya tidak tenang melihat bapak itu pergi. teman saya mengantri cukup panjang di atm. saya menunggu dia

saya melihat dompet saya. hanya ada 15 rb. lalu saya mengambil 10 rb, memasukkannya ke dalam saku jaket saya. setelah teman saya keluar dari atm, saya meminta supaya kami mengejar bapak itu. lalu kami memutar balik sambil melihat di sebrang jalan, mencari bapak penjual kaligrafi itu. ternyata dia ada di depan apotik, menjajakan barang-barang jualannya kepada pengunjung apotik yang turun dari mobil mereka.

lalu kami memutar balik lagi. berhenti di depan apotik. saya ragu-ragu untuk mendatangi bapak itu. tetapi saya memberanikan diri saya. lalu saya turun dari motor dan berjalan menuju bapak itu. bapak itu melihat saya berjalan ke arahnya. setelah cukup dekat, saya bingung harus ngomong apa.

pak, saya tidak mau membeli kaligrafi bapak. tapi saya mau memberi bapak ini (sambil memberikan uang 10 rb).

alhamdulillah, neng… (dengan muka yang sangat bersyukur).

bapak itu (tanpa ditanya) lalu bercerita bahwa dia berasal dari majalaya, tidak punya ongkos untuk pulang, dan tidak ada yang membeli barang jualannya. dia bercerita dalam bahasa sunda, tetapi bahasa sunda yang jarang saya dengar. mungkin karena dia berasal dari sisi lain jawa barat. tetapi saya mengerti apa yang dia ucapkan.

bapak sudah makan?

tadi saya makan tajil saja.

wow, dia memang bener-bener ga punya uang untuk makan apalagi pulang. seandainya di dompet saya ada uang yang lebih banyak saat itu, saya pasti memberi lebih dari 10 rb.

lalu saya pamit pulang dan bapak itu sangat berterima kasih.

 

saya berharap bisa membawa harapan, masa depan, sukacita, dan pembebasan kepada orang-orang seperti bapak dan ibu tadi.

Kuasa TUHAN Yang Mahatinggi ada padaku; Ia memilih dan mengutus aku untuk membawa kabar baik kepada orang miskin dan menyembuhkan orang yang remuk hatinya; untuk mengumumkan kepada orang tahanan bahwa mereka segera dibebaskan, dan kepada orang-orang dalam penjara bahwa mereka akan dilepaskan. Ia mengutus aku untuk memberitakan bahwa sudah tiba saatnya TUHAN menyelamatkan; untuk menghibur semua yang berduka cita, dan membalas musuh-musuh mereka; untuk memberi kegembiraan dan sukacita kepada orang yang bersedih dan berkabung; untuk mengubah kesedihan mereka menjadi lagu pujian.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.