mimpi quasimodo

Mimpi Quasimodo adalah salah satu bab yang ada di buku Even Greater karya Reinhard Bonnke. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Andi. Buku ini berisi 12 kisah nyata yang akan menginspirasi Anda untuk melakukan hal-hal yang lebih besar lagi bagi Allah. Semua kisah nyata ini adalah pengalaman pelayanan Reinhard Bonnke dan kelanjutan pekerjaan Allah dalam hidup orang-orang yang pernah dia layani. This is a very nice book. I suggest you to read it🙂

 

even greater

even greater

 

 

Ini adalah kisah yang sangat luar biasa. Saya menangis saat membacanya. Bukan karena cerita yang sedih. Tetapi karena kasih TUHAN yang sangat besar dan ajaib dinyatakan dalam kehidupan anak-Nya.

Selamat membaca!🙂

 

 

Bab ini bercerita tentang iman Jean Neil, seorang wanita yang memiliki kerusakan parah pada tulang punggung. Pinggulnya telah keluar permanen dari persendiannya. Dia selalu merasakan kesakitan yang luar biasa (sampai meneteskan air mata) jika dia bergerak. Jean menggunakan kursi roda. Hal yang luar biasa adalah Jean tidak pernah absen dari pertemuan ibadah di gereja. Namun sangat merepotkan dan menyakitkan untuk membawanya ke gereja. Pertama kursi rodanya harus dipindahkan ke dekat mobil. Lalu ia harus dibantu untuk bangun dari kursi roda dan dengan hati-hati diatur sedemikian rupa supaya masuk mobil. Tulang punggungnya yang bengkok dan kaku itu tidak memungkinkan dia untuk membentuk sudut yang wajar. Dia biasanya akan tersentak kesakitan saat diletakkan di tempat duduknya. Lalu kaki-kakinya harus diatur dalam mobil dan dia akan berteriak kesakitan jika kakinya digerakkan.

Pada tiap ibadah Jean hanya mampu duduk di bantalan tebal kursinya selama beberapa menit saja. Kemudian rasa sakitnya akan menjadi tak tertahankan dan dia akan mengangkat dirinya ke atas dengan tongkat penyangganya dan berjalan terhuyung-huyung ke tembok. Di sana dia akan menyandarkan tubuhnya untuk meringankan rasa sakit yang luar biasa antara punggung bawahnya dan pinggulnya. Dia akan berdiri begitu, tergantung di antara kedua tongkat penopangnya, sekitar satu jam. Tak seorang pun yang hadir di gereja itu yang tidak terus-menerus disadarkan bahwa Jean Neil sedang mengalami kesakitan yang sangat.

Untuk alasan inilah banyak doa dinaikkan bagi kesembuhannya. Pendetanya berdoa, kelompok kaum mudanya berdoa, kelompok kaum wanitanya berdoa. Setiap persekutuan doa jemaat selalu mencakup permohonan akan kesembuhan Jean. Para sahabatnya selalu berusaha mencari jawaban atas doa-doa mereka. “Adakah sesuatu yang salah dengan doa-doa mereka? Mengapa Allah tidak menyembuhkan hamba yang setia seperti dia?” Jean tidak pernah putus pengharapan, namun imannya naik-turun selama bertahun-tahun.

Kemudian terjadilah sesuatu yang akan mengubah kehidupannya selamanya. Seorang anak kecil berumur tiga tahun di gereja mendekati Jean dan bertanya apakah dia boleh mendoakannya. Dia memegang tangan-tangan kecil itu dan mengizinkannya menaikkan doa yang sederhana, doa seperti doa kebanyakan anak kecil lainnya. Balita itu berdoa meminta supaya Allah menyembuhkan Jean. Sesuatu mulai bergolak jauh dalam hati Jean.

Pada malam itu, Jean mendapatkan dua mimpi yang berbeda dan jelas sekali. Dalam mimpi yang pertama, dia menjalani operasi tulang belakang dan meninggal dunia di atas meja operasi. Dia melihat sang dokter memberi tahu suaminya bahwa jantungnya sudah menjadi terlalu lemah sehingga tidak dapat bertahan melewati proses itu. Dia tiba-tiba terbangun. Sudah jelas arti dari mimpi itu. Jika dia memilih untuk menjalani operasi, maka hasilnya adalah kematian. Dia bertanya-tanya, mungkinkah mimpi ini timbul dari kekuatirannya sendiri? Dia pun akhirnya tidur kembali.

Lalu Jean mendapatkan mimpi lagi, tetapi jauh berbeda dengan mimpi sebelumnya. Dia sedang berada di ruangan yang begitu besar bersama dua belas orang lain di atas kursi roda. Dia mendengar suara seorang pria sedang berbicara. Itu adalah suara yang sangat khas dengan logat yang asing. Dia melihat pria itu muncul di depan kursi-kursi roda tadi. Dia pergi ke arah kursi roda pertama dan mendoakan seorang wanita. Dia memerintahkan wanita itu untuk bangkit. Wanita itu bangkit namun kemudian duduk kembali dengan reaksi kekalahan. Kemudian pria itu datang ke arah kursi roda Jean. Dia mendoakan Jean dan Jean pun bangkit sambil berdiri dari kursi rodanya dan sembuh sepenuhnya.

Jean menolak rasa takutnya dan memilih kehidupan. Dia mulai menggambarkan mimpi keduanya kepada para sahabat dan keluarganya. Dia bahkan bisa menggambarkan deskripsi fisik dari pria yang mendoakannya dan deskripsi dari ruangan tempat mereka berada saat itu dan bagaimana kedengarannya suara pria saat itu. Dia mulai menantikan apa saja dan siapa saja yang mungkin akan menjadi penyalur kuasa Allah itu.

Dua minggu kemudian sebuah konferensi kaum muda direncanakan untuk diadakan di National Exhibitition Centre di Birmingham, Inggris. Kelompok kecil dari kaum muda Rugby (gereja Jean) tentu saja akan menghadiri acara itu. Jean Neil akan pergi menyertai mereka. Dia mendengar bahwa pembicaranya adalah Reinhard Bonnke. Reputasinya sebagai seorang penginjil mencakup banyak kisah kesembuhan secara ajaib. Acara itu diadakan pada tahun 1988.

Jean meminta suaminya John untuk mempersiapkan ambulans untuknya. Karena John bekerja pada perusahaan ambulans, hal itu mudah dikerjakan. Jean memberitahukan para sahabatnya bahwa ia percaya jika Reinhard Bonnke mendoakannya, keadaannya akan membaik. Pada titik ini dia belum bisa memastikan bahwa Bonnke adalah pria yang dia lihat dalam mimpinya. Imannya untuk kesembuhan belum sempurna.

Bonnke masuk ke Convention Centre Hall melalui pintu panggung. Ruangan besar ini dipenuhi sekitar 12 000 delegasi kaum muda beserta para pembimbing mereka. Bonnke duduk di kursinya dan menunggu untuk diperkenalkan ke jemaat. Sementara menanti, ia memandang ke arah jemaat dan terus bercakap-cakap dengan TUHAN. “TUHAN, apakah yang akan Engkau lakukan malam ini di sini?”

Saat pandangannya tertuju ke arah kursi-kursi roda, TUHAN mengarahkan perhatiannya kepada seorang wanita di pojok kiri. Ia merasakan Roh Kudus berkata kepadanya, “Wanita di kursi roda itu akan disembuhkan hari ini juga.”

Dari kursi rodanya, Jean memandang Bonnke di atas panggung. Dia berpikir bahwa Bonnke tentulah sangat mirip dengan pria yang ada dalam mimpinya. Dia melihat sekeliling ruangan pada kursi-kursi roda lainnya. Dia tidak menghitungnya, namun kira-kira ada dua belas orang lain yang kondisinya sama seperti dirinya. Ketika Bonnke bangkit untuk berkhotbah, Jean mengenali suara Bonnke persis seperti pria yang ada dalam mimpinya. Suara dan aksennya kedengaran sangat mirip. Pengharapannya menjadi begitu kuat.

Bonnke menyala-nyala dalam Roh. Ia mengkhotbahkan pesan keselamatan kepada orang-orang muda itu. Ketika ia memberikan altar call, hampir 1 500 orang menanggapinya. Kemudian, tiba-tiba tuan rumah dari acara itu datang kepadanya di atas podium dan berkata, “Reinhard, saya menyewa ruangan ini sampai jam enam. Kita harus mengosongkan ruangan ini.”

Bonnke melihat jam tangannya dan menyadari bahwa mereka hanya memiliki waktu lima belas menit lagi sebelum ruangan itu dikosongkan. “Oh, tidak!” pikirnya, “Saya belum mendoakan orang-orang sakit.”

Tanpa ditunda lagi Bonnke segera turun dari podium dan pergi ke arah kursi roda pertama yang ia lihat di depannya. Seorang wanita duduk di sana. Ia berkata, “Saya ingin berdoa untuk Anda.”

Ia menumpangkan tangan atas wanita itu. Ia bisa merasakan kuasa Roh Kudus seperti aliran listrik di tangannya. Ia berdoa, kemudian berkata,”Berdirilah dalam nama Yesus!” Wanita itu berdiri, namun dia bergoyang-goyang keras. Di wajahnya ada ekspresi tersinggung, seolah-olah Bonnke tidak berhak melakukan hal itu kepadanya. Wanita itu duduk kembali. Bonnke tahu bahwa dia tidak disembuhkan. “Oh, tidak!” pikirnya, “Ini bukanlah wanita yang TUHAN tunjukkan kepada saya.”

Pada titik ini seorang dalam ruangan itu memiliki sebuah video kamera yang sedang dinyalakan. Apa yang berikutnya terjadi sungguh-sungguh terekam dan telah ditonton berulang kali oleh banyak pemirsa selama bertahun-tahun berikutnya setelah acara ini berlangsung. Video ini bisa dilihat di http://www.jeanneilministries.org.uk/video.html

Bonnke ingat bahwa wanita yang TUHAN tunjukkan kepadanya ada di sebelah kiri. Ia melompat naik dan melihat ke arah kiri sampai akhirnya ia melihat wanita itu. Kemudian ia berlari menyeberangi ruangan itu sementara kamera terus mengikutinya. Ia sedang berlomba melawan waktu untuk sampai kepada wanita itu sebelum mereka harus mengosongkan ruangan itu.

Jean Neil sedang duduk di atas kursi roda. Suaminya, John, berdiri di belakangnya, memegang tangkai kursi rodanya. Bonnke belum pernah melihat mereka. Ia pun tidak tahu apapun tentang keadaan mereka dan apa yang menyebabkan mereka datang ke tempat itu. Bonnke memandang ke arah John dan John memandang Bonnke dengan tatapan sedingin batu. Bonnke berlutut di depan Jean dan berkata, “Saya datang untuk mendoakan Anda. Anda akan disembuhkan hari ini juga.”

Bonnke tidak pernah melupakan jawaban Jean, “I know! I know! I know!” serunya.

Apa yang Jean ketahui adalah bahwa mimpi keduanya sedang terjadi persis di depan mata kepalanya sendiri. Imannya melonjak.

Bonnke berkata, “Baiklah, saya akan mendoakan Anda dan Anda akan berdiri.”

John berkata, “Apa maksud Anda dengan berdiri? Istri saya tidak memiliki pinggul. Pinggulnya tidak tersambung dengan persendiannya.”

Bonnke berkata, “Yang saya tahu adalah bahwa tidak ada hal yang mustahil bagi TUHAN. Saya akan mendoakan Anda dan Anda akan berdiri.”

Bonnke menumpangkan tangannya ke atas Jean dan berdoa. Kemudian Bonnke memerintahkan Jean untuk berdiri. Perlahan, dengan tekad yang besar, Jean berdiri, tetapi kemudian jatuh ke lantai. Bonnke berpikir, “Oh, tidak! TUHAN, apakah yang telah saya lakukan?”

Namun kemudian Bonnke menyadari bahwa Jean tidak terjatuh ke arah kursi rodanya, tetapi dia terjatuh ke depan. Ini setidaknya merupakan arah yang benar. Kemudian Bonnke juga sadar bahwa Jean tidak terjatuh karena pinggulnya tidak bisa menanggung berat badannya, melainkan dia terjatuh di bawah kuasa Allah. Dia terjatuh dalam Roh.

Bonnke dengan cepat menundukkan badan ke arahnya. Ia berkata, “Yesus sedang menyembuhkan Anda.”

“I know! I know!” katanya. Lalu Jean memandangi Bonnke dan berkata, “Saya merasa seolah-olah saya sedang dibius.”

“Dokter Yesus sedang mengoperasi Anda!” seru Bonnke.

Pada titik ini, seperti yang dikatakan oleh Jean sendiri, dia merasakan sesuatu yang luar biasa dan ajaib sedang terjadi dalam tubuhnya. Dia merasa seolah-olah sedang ditempatkan di sebuah alat perenggang dan tubuhnya sedang ditarik lurus. Dia merasa pinggulnya masuk ke persendiannya.  Salah satu kakinya lima centimeter lebih pendek daripada yang lainnya. Kaki itu bertumbuh sehingga sama panjang dengan kaki lainnya. Kemudian dia merasakan bahwa seolah-olah sebuah tongkat besi yang panas turun di sepanjang tulang punggungnya. Tulang-tulangnya, daging dan ototnya, yang pertumbuhannya telah terhenti, mulai melentur dan menampakkan kehidupan yang baru.

Bonnke berkata kepada Jean, “Bangkitlah, dalam nama Yesus!”

Bonnke memandang kepada John. Ia pikir John pastilah akan menonjoknya. John berkata, “Bagaimana jika dia jatuh?”

“Saya akan menolongnya. Saya akan menolongnya. Sekarang, bangkitlah!” seru Bonnke.

Perlahan Jean mulai bangkit dari lantai. Lalu dia berdiri di atas kaki-kakinya sendiri.

“Sekarang, berjalanlah dalam nama Yesus!”

Video kamera terus merekam. Jemaat sedang berdiri di atas bangku mereka masing-masing di sekitar kami. Kami benar-benar dikelilingi oleh orang-orang yang sedang mengawasi. Jean memakai topi baret merah. Semua orang melihat topi baret itu terbang ke atas sementara Jean tiba-tiba menghilang dari bawahnya. Bagi Bonnke, Jean sepertinya membuat suatu lompatan yang tiba-tiba seperti seekor belalang yang sama sekali tidak terduga.

Jean Neil berlari mengelilingi ruangan itu, tangannya di udara, memuji TUHAN, menangis karena sukacita. Mimpi keduanya baru saja terjadi. Bukan kematian, melainkan kehidupan yang sama sekali baru.

Dia berkata kaki-kakinya sama sekali tidak goyah. Kakinya begitu kuat dan sehat. Bonnke terus memanggil lewat microphone. “Where is that woman? Where is that woman?”

Jemaat tanpa berhenti menjawab, “Over there! Over there! Over there!”

Bonnke masih mencari-cari ke mana arah perginya. Tiba-tiba Jean sudah berada persis di belakangnya. Jean benar-benar telah mengelilingi seluruh ruangan gedung itu.

Tempat itu menjadi hiruk-pikuk. Begitu banyak air mata. Begitu banyak pujian kepada TUHAN. Begitu banyak tangisan karena sukacita.

Bonnke meminta Jean untuk naik ke atas panggung supaya jemaat bisa mengetahui apa yang baru saja terjadi. Jean langsung berputar dan meloncati anak-anak tangga menuju podium. Anak-anak tangga itu sebenarnya cukup tinggi. Itu sendiri sudah cukup menjadi kesaksian. Jean sepenuhnya dipulihkan. John mengikuti di belakangnya, masih terkejut, sambil membawa kursi rodanya. Bonnke mengikuti mereka.

Di podium Jean menari-nari berkeliling dengan tangannya diangkat ke atas seperti seorang petinju yang baru saja memenangkan gelar juara kelas berat. Jemaat bersorak-sorai. Jean melambaikan tangannya. Bonnke bertanya kepada siapakah ia melambaikan tangannya dan dia menjawab kepada pendetanya dan para sahabatnya di gerejanya di Rugby. Kemudian Bonnke baru tahu untuk pertama kalinya betapa parahnya penyakit Jean itu. Sangat bagus bahwa Bonnke tidak mengetahuinya sebelumnya.

“Coba berikan kami sebuah demonstrasi, ” kata Bonnke.

“Demonstrasi apa?” Jean bertanya dengan nada tajam.

“Lakukanlah sesuatu yang Anda tidak bisa lakukan sebelumnya,” jelas Bonnke.

“Oh,” dia berkata, seolah-olah tidak tahu apa yang tadi Bonnke maksud.

Kemudian Jean mulai membungkukkan badannya dan menyentuh ujung jari kakinya, melakukan jongkok berdiri, berlari-lari di tempat. Dia sungguh-sungguh berolahraga di depan para jemaat. Mereka bersorak-sorai, bertepuk tangan dan memuji Allah sampai seseorang ingat bahwa mereka harus segera mengosongkan ruangan itu.

Baru setelah Bonnke tiba di rumah, ia akhirnya mengetahui betapa luar biasanya mujizat yang satu ini. Teleponnya mulai berdering. Orang-orang dari berbagai negara di seluruh dunia telah mendengar mujizat ini. Dalam kasus Jean Neil, banyak orang di gerejanya yang mengenal dia kemudian mengkonfirmasikan kuasa dari kesaksian ini. Beberapa saat kemudian para dokternya menambah konfirmasi mereka terhadap kisah itu. Berita di media gila-gilaan meliput tentang hal ini. Itu merupakan sebuah kesembuhan yang mengguncangkan ketidakpercayaan banyak orang dalam gereja mengenai kuasa Allah untuk menyembuhkan.

Ketika Bonnke meninggalkan kota itu, Jean Neil sedang memulai kehidupannya yang sama sekali baru. Dia pulang ke rumahnya di Rugby dan berlari menaiki tangga menuju rumahnya. Anak perempuannya sedang berada di ruang tamu bersama pacarnya. Ketika dia mendengar ada langkah kaki sedang berlari di tangga, dia berpikir itu adalah pencuri.

“Coba lihat ada apa di sana,” dia mendesak pacarnya.

Pacarnya agak takut. “Mungkin itu adalah ibumu sendiri,” katanya agak ragu.

“Ibuku wanita yang lumpuh dan tua,” dia berkata, “Dia tidak bisa berlari menaiki tangga.”

Seraya membuka pintu, Jean mendengar perkataan itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia menyadari apa yang keluarganya pikirkan tentang dia. Quasimodo adalah lebih dari sekedar lelucon yang manis pahit. Bagi orang-orang terdekatnya, itu merupakan realita yang sebenarnya sulit diterima.

Jean berjalan masuk ke ruangan itu untuk menjumpai anak perempuannya. “Ketika Yesus menyembuhkanmu, maka kamu bisa berlari menaiki anak tangga,” dia berkata.

“Ibu!” Anak perempuannya langsung menangis. Jean berlari naik-turun tangga di depan anak perempuannya. Kemudian mereka berpelukan dan terus menangis.

John selesai memarkir mobil ambulans. Dia naik ke atas tangga untuk bergabung dengan mereka, sambil membawa kursi roda Jean.

Jean merasa lumpuh saat dia bangun keesokan paginya. Ia merasa ketakutan dan tidak bisa bergerak.

“John,” dia berkata dengan suara yang bergetar.

John dengan cepat duduk, “Ya sayangku. Ada apa?”

Untuk beberapa saat Jean tidak mampu bicara. “Apakah aku hanya bermimpi, John? Apakah ini sebuah mimpi?”

“Bukan. Ini bukanlah mimpi, Sayang. Ini sungguh-sungguh terjadi. Aku menyaksikannya sendiri dengan mata kepalaku.”

Jean melompat dari tempat tidur dan menari di sekeliling kamar. “Saya akan membuatkan sarapan. Saya akan mencuci piring. Saya akan membersihkan rumah. Saya akan pergi ke pasar.” Dan dengan itu dia meninggalkan suaminya yang masih mengucek-ngucek matanya karena ngantuk.

 

Cerita ini tidak berakhir di sini. TUHAN terus bekerja dan memakai Jean dengan luar biasa. Penasaran? Silakan baca bukunya🙂

jeans-header-banner-t-copy

God bless you all…

2 thoughts on “mimpi quasimodo

  1. ya, Allah kita adalah Allah yang luar biasa…kalo Dia udah berkehendak, ga ada satu kuasapun yang bisa menghalanginya…
    Aku pernah mengalami kuasaNya yang dahsyat… waktu itu tepatnya di Baturaden, aku ikut retreat dan malam itu adalah sesi “Holy Spirit night”… saat itu aku sangat merindukan Roh Kudus mengalir di hatiku dan aku yakin kalo saat itu juga Roh Kudus mau masuk ke dalam hatiku secara pribadi… aku dijelaskan tentang segala sesuatu mengenai Roh Kudus. siapa itu Roh Kudus, apa yang Ia kerjakan, apa karunia2 yang diberikan kalo kita penuh dengan Roh Kudus dll…
    aku dilayani dan didoakan oleh kakak2 rohaniku dan aku terus memanggil namaNya dan mengundang Roh Kudus masuk ke dalam hatiku… tiba2 aku merasakan ada suatu aliran kuasa yang dahsyat. aku belum pernah mengalami kuasa yang sedahsyat itu. aku seperti merasakan ada aliran listrik yang mengalir memasuki tubuhku melalui tanganku, aliran listrik itu begitu kuat dan mulai menggetarkan tanganku.. alirannya semakin kuat dan semakin kuat dan mulai menggerakan lidahku dan disitulah aku mengalami yang namanya Baptisan Roh Kudus… sungguh luar biasa kuasaNya… aku terus merindukan aliran kuasa yang sama itu terus mengalir di dalam hidupku…

    kisah lain yang mirip dengan kisah Jean adalah ketika aku mengikuti KKR di Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta… lapangan yang begitu luas itu dipenuhi dengan lautan manusia…
    saat aku memasuki lapangan itu, aku melihat begitu banyak orang menggunakan kursi roda…aku melihat bahwa mereka begitu yakin akan sembuh… saat KKR dimulai, hadirat Allah mulai terasa dan semakin lama semakin kuat… orang2 yang tadinya datang dengan kelumpuhannya pun mulai satu per satu disembuhkan…mereka menaiki panggung dengan sukacita…mereka berlari bahkan melompat…yang menderita sakit kanker bertahun tahun disembuhkan…sungguh luar biasa, aku belum pernah melihat yang seperti ini…yang buta dapat melihat…aku merindukan bahwa kuasa yang luar biasa itu tidak akan berhenti saat itu, namun akan terus mengalir sampai kesudahan jaman di Indonesia karena Roh Kudus yang sama, tetap akan ada di Indonesia, memulihkan Indonesia… kemudian, ada satu hal lagi yang tidak pernah aku lupakan, saat itu, tahun 2006, Tuhan berjanji akan memberkati Indonesia…GBU

  2. makanya, bikin blog, prim. biar klo ada kisah-kisah yg pgn kamu tulis, ga usah numpang di blog org laen, hoahahaha :))

    keep visiting ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s