operasi pengangkatan tumor

Pagi ini, teman Mama, Mbak Ita, menjalani operasi pengangkatan tumor. Uniknya, tumor yang dimiliki Mbak Ita sama dengan tumor yang dulu saya miliki. Beliau juga dioperasi oleh dokter dan di rumah sakit yang sama dengan saya dulu (dr. Arthur Tobing di RS Boromeus). Beberapa hari sebelum operasi, Mbak Ita banyak berkonsultasi dengan Mama. “Gimana dulu Kakak waktu operasi, Bu?”, tanya Mbak Ita pada Mama (Mama memanggil saya dengan sebutan Kakak). Mbak Ita juga bertanya tentang kondisi saya pasca operasi.

Sedikit cerita tentang operasi saya dulu. Saya dioperasi pukul 09.00. Sebelumnya, saya disuruh puasa dulu sejak pukul 00.00. Saya puasa sejak pukul 22.00 hari sebelumnya, karena saya mau tidur. Pagi-pagi, Mama membangunkan saya untuk segera bersiap-siap. Papa juga bangun pagi-pagi dan bersiap-siap untuk mengantar saya. Pukul 06.40, Pdt. Erny S. Sendow datang ke rumah. Saya tidak menyangka sama sekali. Pdt. Erny adalah gembala GKI Arcamanik, di mana orang tua saya berjemaat lokal. Pdt. Erny cantik sekali. Beliau memimpin doa sebelum kami berangkat ke RS Boromeus. Beliau juga turut mengantar kami.

Kami (Papa, Mama, saya dan Pdt. Erny) sampai di RS Boromeus pukul 07.30. Kami segera menuju ruang operasi dan menunggu di ruang tunggu. Tak lama kemudian, Bapatua dan Inangtua saya datang. Wah, koq jd rame gini? Pukul 08.15, nama saya dipanggil, dan saya ditemani Mama masuk ke unit ODS (one day surgery). Saya berganti pakaian dengan pakaian operasi dan menjalani persiapan pra operasi dibantu oleh Suster. Suster menandai bagian tubuh yang akan dioperasi dengan pulpen. Ia juga menusukkan jarum tempat memasukkan obat ke tangan kiri saya. Saya tegang sekali saat itu.

Saya diantar ke ruang operasi dan dibaringkan di atas meja operasi. Dua orang suster memasangkan banyak alat pada tubuh saya. Salah satu alat yang dipasangkan adalah 3-lead ECG (electrocardiograph). Dipasangkan di belakang pundak saya (kiri dan kanan) dan kaki kiri saya (ini adalah prinsip segitiga Einthoven dan saya ingat jika kaki kanan saya akan berfungsi sebagai ground, he3… dasar anak EL, sempet-sempetnya mikir kaya gitu di meja operasi).

Setelah semua persiapan beres, dokter pun masuk ke ruangan operasi. Ada dua orang dokter yang mengoperasi saya, dan saya tidak pernah tahu nama dokter yang satu lagi😀 Yang jelas, dokter yang satu lagi orangnya lebih muda daripada dr. Arthur, chinese sepertinya, terus anjeunna teh nyarios sunda, he3… Dokter ini memasukkan obat bius melalui jarum obat di tangan kiri saya. Dalam hitungan detik, saya tidak sadarkan diri. Saya merasa obat itu mengalir dengan cepat dari tangan kiri saya menuju daerah leher, lalu saya mencium sesuatu yang berbau tajam, lalu kesadaran saya hilang…

“Christ… udah selesai…” seru seorang Suster membangunkan saya sambil tersenyum. Saya pun sadar dan saya melihat wajah Suster dan wajah Mama. Saya tidak percaya operasi sudah selesai. Saya segera melihat bagian tubuh yang dioperasi, dan ternyata sudah ditutup perban. Wah, cepat sekali. Tidak terasa apa-apa. Setelah sadar, Suster segera mengambil alat pernafasan yang disambungkan dengan tabung oksigen dari hidung saya. Lalu saya digiring menuju ruangan pasca operasi dan berganti pakaian. Belum terasa apa-apa saat itu. Lama-lama saya merasa pusing, mual, dan sakit pada luka bekas operasi. Suster menyediakan roti tawar isi mentega dan meses dan teh manis hangat. Mama ingin saya cepat makan, mengingat saya puasa sejak semalam. Tapi saya merasa mual. Saya hanya makan roti segigit dan minum teh manis satu teguk. Pengaruh obat bius belum sepenuhnya hilang. Saya tertidur kembali. Saat itu kira-kira pukul 11.00.

Pukul 14.00 saya bangun kembali dengan rasa mual dan sakit kepala. Saya minta pulang. Lalu kami (Mama, Papa, saya) pun bersiap-siap untuk pulang.

Sampai di rumah, saya tidak bisa makan apa-apa. Rasa mual dan sakit kepala semakin menjadi. Belum lagi rasa sakit pada luka bekas operasi. Saya juga masih harus minum obat dari dokter. Mama membelikan saya roti isi selai coklat. Tetapi makanan itu tidak membuat saya tertarik untuk menyentuhnya. Mama bingung karena saya tidak mau makan sama sekali. Saya hanya minum teh manis, sedikit sekali. Yang memperparah keadaan adalah banyak teman Mama Papa yang datang menjenguk sore itu juga. Mereka membawa banyak makanan. Tetapi, saya tetap tidak mau makan. Padahal, biasanya semua makanan di rumah dihabiskan oleh saya, he3…

Setelah berdoa, teman-teman Mama Papa segera pulang. Lalu saya muntah… wueekkk… Semua makan dan minuman yang masuk ke tubuh saya tadi keluar lagi. Setelah muntah, lega rasanya. Tidak terlalu mual dan tidak terlalu pusing lagi. Saya segera tidur dan sarapan keesokan harinya. Jadi, saya tidak makan untuk kurang lebih 40 jam. Waaa… rekor tuh…

Pasca operasi, orang-orang yang menengok saya terus berdatangan, mulai dari teman-teman gereja sampai saudara-saudara. Mereka juga membawa banyak makanan. Untung rasa mual itu hanya ada di hari pertama. Sesudah itu, saya bebas makan apapun juga (kecuali makanan yang mengandung zat karsinogenik).

Mama tidak pernah membeli penyedap rasa lagi. Hanya boleh memakai garam dan bumbu-bumbu alami. Hiks.. Jadinya jika saya ingin menggoreng telur atau memasak nasi goreng, terpaksa memakai garam, bukan Masako. Padahal klo pake Masako kan lebih enak, Ma..

Seminggu kemudian, saya kontrol ke dokter. dr. Arthur menyatakan dari hasil lab, tumor yang dulu diangkat adalah tumor jinak. Jadi tidak perlu kuatir. Jahitan pada bekas luka operasi lalu dibuka. Semuanya baik-baik saja. Saya bisa hidup normal kembali, termasuk mandi dan keramas dengan normal, he3… Tetapi terkadang ada rasa sakit di bekas luka. It’s ok. Wajar koq. Namanya juga proses penyembuhan.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah menjalankan pola hidup sehat supaya tumornya ga muncul lagi…

3 thoughts on “operasi pengangkatan tumor

  1. iya ya, kayaknya makanannya lebih enak kalo pake masako…heheheheh

    selama di meja operasi, ga kerasa sama sekali ya kak setelah dibius?

    aku ga bisa mbayangin deh gmana tegangnya ada di meja operasi. bayangin aja, sama jarum aja aku takut (makanya ga pernah mau ikut donor darah). apa lagi dioperasi ya…

    hehehehe

    by teh way, karsinogenik itu apaan sih ya?ga maksud…heheheheheeh

  2. wkwkwkwk.. sama jarum aja takut. kan jauh lbh gede kamu drpd jarum😛

    karsinogenik itu zat-zat yang merangsang pertumbuhan sel tumor/kanker..

  3. prima takut sama jarum? lebay ah.. wkt msh bayi/kecil aja tiap kali disuntik ga pernah nangis tuh. perawat/suster aja bingung ngeliatnya, mosok bayi disuntik ga nangis. hahahahaha….serius dulu prim..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s